18 Tahun Membesarkan Anak Tunagrahita

18 Tahun Membesarkan Anak Tunagrahita

Seringkah kita mendengar kalimat : ..”bukan kah aku telah menjalankan sholat, zakat, sedekah,  haji, berbuat baik pada orang….kenapa tidak diangkat semua kesulitan ini?”

Ada pelajaran berharga dari keluarga ini…..

Sabtu, 26 —— 2013.

Hari ini saya bertemu dengan keluarga luar biasa, benar-benar langka…

Si sulung menemui saya untuk meruqyahkan adiknya yang “sakit” dan bertambah “sakit”. Bukan sakit pada umumnya, si bungsu ini tunagrahita…..emm ..tetangganya menyebut dengan istilah idiot, entahlah..sy tidak terlalu mengerti istilah-istilah itu, yang jelas si bungsu ini ‘lain’ dari remaja seusianya. 18 tahun, perempuan.

7.30 wib.. saya tiba dirumahnya.

Ruang tamu ini tidak berisi meja kursi layaknya rumah-rumah lain, tapi spring bed untuk tidur si bungsu yang “sakit”, didepannya ada televisi yang menjadi teman karib si bungsu ini. Sepanjang hari, dan setiap hari. Tidak tersisa tempat untuk meja dan kursi. Ruang tamu ini menjadi tempat khusus bagi si bungsu menghabiskan hari-harinya. Di sebelah kiri ada kamar, disebelahnya lagi ruang dapur dan sumur yang terlihat dari ‘tempat’ si bungsu berbaring.

“Silahkan ustad, Ini ayah saya, dan ibu”, Kata si sulung. Si ayah terlihat kurus dengan rambut mulai memutih.

“Dan ini adik saya. Nduk..ayo bangun, “ kata si sulung memanggil adikinya dengan sebutan Nduk (anak perempuan)., sambil mendudukkan tubuh adiknya.

Sesaat kemudian, saya melihat pemandangan diluar dugaan saya..benar-benar tidak saya sangka..

Si bungsu bangun dan (maaf) menetes air liur dari bibirnya..hal yang lazim kita temui pada anak-anak tunagrahita(maaf jika salah)…sesaat kemudian si kakak mencium kening si bungsu….tulus..sangat tulus..tanpa rekayasa, kecupan kasih sayang seorang kakak pada adiknya..

Si adik hanya tertawa-tawa dari tadi…

Ustadz..ini anak saya, sudah 2 minggu lebih ini bertambah aneh, bertambah tidak normal.kata si ayah.

Sebelum 2 munggu yang lalu, dia masih bisa mengenali saya, ibunya dan abangnya. Kalo mau makan dia juga bisa ngasih isyarat, kalo mau ke kamar kecil dia juga bisa ngasih tahu. Dia tidak bisa ngomong ustadz, hanya ngasih tahu kalo mau apa-apa pake isyarat, itupun hanya untuk keperluan-keperluan pokok saja, seperti makan, atau ke buang air.”kata ayah menjelaskan.

Tapi setelah 2 minggu lalu, dia ketawa-ketawa sendiri, dia tidak mengenali saya, untuk makan dan ke kamar kecil pun saya yang harus mengira-ngira. Kata si ayah sambil mengajak bercanda si bungsu itu.

iya, bercanda seperti seorang ayah bercanda dengan balita, dengan ekspresi gembira..benar..gembira.  si kakak, ibu juga tertawa.

Saya takut, dia kena jin ustadz, jadi minta tolong diruqyah..kata ayah lagi.

Tapi ini bukan kena jin Pak..jawab saya waktu itu…tapi tidak apa-apa, insyaAlloh al qur’an tetap bermanfaat.

Iya, Ustad, anak ini memang tidak normal pertumbuhannya sejak kecil. Anak-anak lain sudah merangkak, dia belum. Anak-anak lain sudah berdiri, dia belum, kedua kakinya tidak tumbuh normal, terus mengecil dan sampai akhirnya tidak berfungsi. dulu saya belikan kursi roda untuk jalan-jalan. Ayahnya ini yang menemani kemana-mana.

Saya sih tidak berharap banyak, saya hanya berharap anak ini tumbuh normal meski fisiknya tidak normal. Tapi ternyata mentalnya juga tidak normal.sehari-hari ya begini..kata si ibu menambahkan.

Untung kami ini orang ‘kaya’.. imbuh si Ibu.

Sekilas si sulung terlihat berusaha menghapus buliran air mata, tapi tetap tersenyum….tulus.

Sehari-hari siapa yang menemani adik ini bu? Tanya saya..

Ya bapaknya ini ustadz. Saya kerja, jadi pembantu rumah tangga. Saya menginap ditempat majikan. Hanya saja, selalu saya sempatkan untuk nengok rumah. Bapak tidak bekerja, bapak sakit paru-paru dan sudah ga kuat kerja.

Terus abangnya sehari-hari dimana?, tanya saya..

Oo… dia kerja di kota zzzzzz, hanya pulang kalo pas libur.

Jadi, sehari-hari, ayah dan si adik ini hidup berdua, menghabiskan waktu bersama. Ayah inilah yang menemani dan mengurus segala keperluan si adik selama ini, 18 tahun, mulai si adik ini bangun tidur hingga ia tidur kembali.

‘Saya berharap anak saya ini normal, tapi kehendak Alloh lain, dan sekarang ternyata bertambah lagi ujiannya. Tapi saya menjalani ini dengan santai kok ustadz, siapa tahu setelah ini Alloh ngasih saya rizki banyak atau jadi kaya mendadak.’ kata si ibu sambil tersenyum.

Keluarga ini bercerita tentang hidup mereka dan ujian-ujian dalam keluarganya. mereka bukan keluarga agamis. Tidak ada yang bisa membaca alqur’an selain si kakak, itupun dengan terbata-bata, bahkan si ayah terbiasa tidak menjalankan sholat, ..tapi..

Selama berbicara dengan mereka saya tidak melihat sedkitpun  beban berat dari ucapan mereka, tidak ada keluh kesah dalam kata-kata mereka, tidak ada luapan perasaan kesedihan yang mendalam layaknya orang yang tertimpa musibah atau kesulitan. Apalagi, pernyataan tidak terima terhadap ketentuan Alloh, tidak ada. Tidak ada luapan kata-kata yang mengharu biru bahkan sebaliknya canda tulus selalu menyertai perbincangan kami.

18 tahun telah membuat mereka mengerti arti ketegaran..hingga sekokoh itu, padahal mereka bukan ahli ibadah..

Seringkah kita mendengar kalimat : ..”bukan kah aku telah menjalankan sholat, zakat, sedekah,  haji, berbuat baik pada orang….kenapa tidak diangkat semua kesulitan ini?”

Si ayah tadi tidak pernah sholat, tidak bisa membaca alqur’an, bahkanmungkin tidak bisa berdoa sefasih kita… tapi dia dan keluarganya telah melalui semuanya 18 tahun dengan penuh ketegaran dan entah sampai berapa lama lagi…

Maka mereka yang telah menjalankan sholat lima waktu, telah membaca al Qur’an, telah dimudahkan menunaikan ibadah haji, telah dimudahkan bersedekah…mestinya bisa lebih tegar dan lebih sabar dari si ayah tadi…

 

Wallohu’alam…

nadhif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: