Meruqyah Tanpa Diagnosa (Bagian 2)

Meruqyah Tanpa Diagnosa

(Bagian 2)

 

Beberapa bulan silam…

Saya berkesempatan bertemu dengan seorang Ibu, dari salah satu kota di sumatera. Sambil menangis Beliau memulai bercerita tentang anak laki-lakinya, yang sedang tertimpa masalah. Tak kuasa menahan tangis saat beliau bercerita..entah apa yang terjadi hingga beliau sedemikian terguncang. Saya tunggu beberapa saat hingga beliau mulai bisa bercerita dengan lebih tenang.

“Pak, anak saya sekarang sedang di penjara.” Beliau membuka kalimat ceritanya.

“Karena tuduhan apa?” tanya saya waktu itu.

“Anak saya pengguna narkoba, tapi belum sampai kecanduan. Tapi dia ditangkap bukan karena narkoba. Anak saya membunuh seseorang. Bukan masuk penjara atau membunuhnya saja yang membuat hati saya sedih, tapi anak saya telah membunuh kakeknya sendiri, ayah saya.” Jawabnya diiringi tangisan yang pecah kembali.

“Selesai membunuh, anak saya melenggang tenang dan berdzikir di masjid. Entah kenapa bisa seperti itu.” Terangnya kemudian.

“Dia pernah cerita, tentang kondisi batin dan pikirannya sesaat sebelum peristiwa itu terjadi?’’ tanya saya.

“Iya Pak, dia cerita kemarin waktu di penjara. Dia bilang, waktu itu, dia membaca al Qur’an terjemah, dan salah satu ayat yang dia baca adalah ayat tentang peperangan. Setelah membaca terjemahan ayat tersebut, dia bilang, muncul sosok seseorang yang berbicara ke dia, dia disuruh perang dan membunuh orang kafir. Beberapa saat kemudian dia ambil parang. Dorongan dalam batinnya sangat kuat, dan sosok laki-laki yang membujuk itu begitu nyata. Selalu menyuruhnya untuk membunuh. Tak kuasa menahan dorongan itu, anak saya mengambil parang dengan niat memerangi orang kafir. Tapi entah apa yang dia lihat. Yang jelas yang ada dihadapannya, saat itu adalah kakeknya yang sedang tidur, berbaring. Dan beberapa saat setelah itu…..peristiwa pembunuhan itu terjadi.” Terangnya.

“Innalillahi….maaf saya potong. Apakah keluhan anak ibu sehari-hari selama ini adalah was-was?” tanya saya.

“iya Pak”.jawabnya.

“Pernah ruqyah?” tanya saya

“Pernah pak, 4 x, dan peristiwa pembunuhan itu terjadi 2 hari setelah dia diruqyah” jawabnya.

Innalillahi..ini bisa jadi fitnah besar.

“Kembali ke was-was tadi bu, sehari-hari, keluhan was-was nya seperti apa?”.tanya saya.

”Selain bingung, memang pernah muncul bisikan kuat juga. Setelah mengikuti ruqyah, dia rajin belajar dan membaca buku tentang gangguan jin. Dia pernah membaca salah satu hadits,kalo tidak salah, yang menyebutkan bahwa anjing hitam adalah syetan. Setelah membaca hadits tersebut, muncul bisikan dalam hatinya untuk membunuh semua anjing hitam. Bahkan pernah dia lihat anjing hitam langsung dikejar dan dipukul dengan tongkat, sampai anjing itu mati.” Terangnya.

Berarti was-was, bentuk was-was, dan cara dia merespon was-was sudah tergambar sejak awal.

“Bu, mohon maaf, apakah bentuk was-was dan cara dia merespon was-was, termasuk nasihat cara mengatasi dan bersikap jika was-was muncul itu juga sudah dibahas oleh peruqyahnya ? “Tanya saya

“Tidak. Diruqyah seperti biasanya pak. Emang kenapa, Pak?” Tanya-nya

Innalillahi. Semua sudah takdir Alloh. Saya diam tidak menjawab.

“Sabar Bu ya, semoga anak ibu segera keluar dari penjara dan bertaubat”. Jawab saya.

“Iya Pak, di penjara kemarin dia menangis. Dan tidak tahu kenapa semua bisa terjadi. Saya hanya bisa membesarkan hatinya”. Jawabnya.

Dalam hati, saya merenung, kalo ini terjadi pada saya, saya pasti bilang ke diri saya sendiri bahwa saya salah langkah, dan salah diagnosa. Setiap kali ada kesulitan dalam meruqyah, saya selalu bilang pada diri sendiri,bahwa data yang saya terima terlalu sedikit, atau kesimpulan saya salah, terlalu dini menyimpulkan, atau telah salah diagnosa dan sejenisnya. Karena dengan begitu, saya akan berpikir ulang..

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada pasien, Mungkin dengan memperbanyak dialog,dan menggali maka hal-hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi, setidaknya kita telah berusaha mengantisipasinya meski semua hasil tidak bisa dipastikan.

Memahami kondisi gangguan adalah hal mutlak yang harus dilakukan sebelum menterapi. Memahami yang dimaksud salah satunya adalah sifat gangguan yang kadang tidak bisa selesai sekali ruqyah. Bahkan sering kali pada sebagian kasus, intensitas gangguan akan terasa meningkat dihari-hari awal pasca ruqyah. Lazimnya, reaksi balik akan muncul di pekan pertama.selanjutnya akan melemah. Siklus ini biasa terjadi, jika ruqyah berjalan maksimal.

Kisah diatas saya sampaikan karena 2 alasan :

  1. Bagi pasien, berusahalah untuk jujur pada peruqyah, karena peruqyah tidak pernah tahu hal gaib Semua kesimpulan yang diambil peruqyah hanya berdasarkan apa yang disampaikan dan apa yang dirasakan pasien. Jika pasien menyembunyikan, lupa menyampaikan maka peruqyah akan kesulitan membuat kesimpulan yang benar. Semakin detil info yang diberikan, semoga semakin baik saran dan terapi yang diberikan. Proses ruqyah sama dengan pengobatan medis dan herbal, yakni butuh komunikasi, butuh data, dan butuh kerjasama dengan pasien. Pasien dan keluarga harus bercerita, sekecil apapun, tentang dirinya, keluarganya, sakitnya bahkan tentang lintasan hati dan mimpinya. Karena semua itu akan menjadi data sangat penting bagi peruqyah untuk menentukan langkah.

 

Saat kita datang ke dokter, yang pertama kali kita lakukan adalah menyampaikan semua yang kita rasakan pada dokter. Tanpa ada yang ditutupi.sampaikan semua, dan bergembiralah jika dokter banyak bertanya.

Hal ini juga berlaku saat kita datang ke peruqyah.

 

  1. Bagi peruqyah, dialog dan diagnosa adalah keharusan dalam ruqyah agar kita memahami lebih detil tentang apa yang terjadi pada pasien. Meski pada akhirnya terapinya sama. Peruqyah harus memperlakukan bahwa pasien adalah unik, spesifik. Maksudnya, kasus dan masalah yang sama persis, yang dialami oleh orang yang berbeda, belum tentu pendekatan terapinya sama. Tambahan nasihatnya, amal yaumiyahnya, terapi mandirinya, mungkin akan berbeda karena setiap orang memiliki kondisi batin yang tidak sama. Dan yang terpenting adalah, peruqyah selalu menjalin komunikasi dengan pasien atau keluarganya untuk memantau perkembangannya. Jadi kewajiban peruqyah tidak selesai sesaat setelah ruqyah dilakukan karena apa yang akan terjadi di rumah pasca ruqyah seringkali masih ada kaitanya dengan ruqyah sebelumnya.

Saat kita datang ke dokter, dokter bertanya banyak hal tentang diri dan sakit kita. Semakin dokter itu “cerewet” dan banyak omong, kita semakin suka dan nyaman.

Maka jadilah peruqyah yang ‘cerewet’ dan banyak mendengarkan.

 

Semoga dengan memperbanyak dialog, dan diagnosa, proses ruqyah menjadi lebih ‘hidup’, keakraban terjalin dengan baik,semangat saling menasihati terbangun, dan ending yang kita harapkan adalah proses ruqyah berjalan lebih efektif.

Ini hanya sebuah sudut pandang, bisa diterima bisa ditolak. Tanpa maksud apapun selain berbagi demi kebaikan bersama.

Wallohu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: