PROTEKSI PEMIKIRAN DALAM RUQYAH SYAR’IYYAH

PROTEKSI PEMIKIRAN DALAM RUQYAH SYAR’IYYAH

 

Ideologi selalu menjadi akar dari setiap teknik pengobatan supranatural di dunia. Setiap pengobatan yang tidak murni dhohir selalu terkait dengan mitos, kepercayaan dan ideologi tertentu. Oleh karenanya tidak lah mengherankan jika Nabi memberikan batasan bahwa ruqyah boleh selama tidak mengandung kesyirikan. Karena  kesyirikan adalah bentuk ideologi yang menjadi musuh abadi tauhid.

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa ruqyah, jika tidak ada proses filterisasi maka akan berujung pada kesyirikan. Ini adalah PR besar dalam ruqyah agar proses ruqyah senantiasa terjaga.

Jadi pengobatan spiritual, dan pengobatan fisik adalah 2 hal yang jauh berbeda meski keduanya diakui dalam Islam. Hanya saja pengobatan spiritual tidak bisa dilepaskan dari aspek ideologi, itulah sebabnya kita diminta berhati hati dan benar2 melakukan filterisasi dengan teliti.

Benarkah pengobatan spiritual terkait denga ideologi ?

Mari kita lacak beberapa riwayat tentang cara bersikap Nabi terhadap Ideologi dan keyakinan, lalu kita bandingkan dengan riwayat2 pengobatan ruqyah, adakah persamaan?

Riwayat pertama: Nabi melakukan proteksi terhadap pemikiran yang dikhawatirkan merusak pemahaman

Sebagaimana yang terjadi pada zaman Umar bin Khaththab, ketika itu beliau Radhiyallahu ‘anhu memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةًً ، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ ، وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيّاً مَا وَسِعَهُ إِلاَّأَنْ يَتَّبِعَنِيْ

“Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka kabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku”.

[HR Ahmad, III/387; ad Darimi, I/115; dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah, no. 50, dari sahabat Jabir bin Abdillah. Dan lafazh ini milik Ahmad. Derajat hadits ini hasan, karena memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Lihat Hidayatur Ruwah, I/136 no. 175]

Riwayat ini seolah menegaskan pada Umar agar mencukupkan diri dengan penjelasan Nabi tanpa perlu mengambil dari Taurat. Karena didalamnya masih ada peluang benar dan salah namun Shahabat Umar dikhawatirkan salah dalam menentukan sikap terhadap informasi tersebut.

Proteksi seperti ini adalah isyarat bahwa mencukupkan diri pada penjelasan Nabi adalah sebaik baik pilihan dan agar kita jauh lebih kokoh dengan pemahaman Islam yang hanif.

Riwayat Kedua : Nabi Pernah melarang Ziarah Kubur

Dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).

Didalam riwayat Abu Daud ditambahkan,”..Sesungguhnya ia adalah peringatan.” Didalam riwayat al Hakim disebutkan,”Ia (Ziarah kubur) melunakkan hati, mengucurkan air mata, maka janganlah berkata kotor.” sedang didalam riwayat Tirmidzi disebutkan,”Maka sesungguhnya ia mengingatkan akherat.” Ia mengatakan,’Hadits Buraidah adalah hadits Hasan Shohih)

Apa alasan Nabi hingga melarang ziarah?

Ibnu Abbas mengatakan,”Tatkala keimanan sudah kokoh bersemayam didalam hati mereka (kaum muslimin) dengan terkikisnya kemusyrikan dan terkukuhkannya agama maka mereka diizinkan berziarah kubur untuk menambah keimanan dan mengingatkannya terhadap apa yang telah diciptakan baginya berupa negeri yang kekal (akherat). Perizinan dan pelarangannya pada waktu itu adalah demi kemaslahatan.

Adapun bagi kaum wanita, meskipun terdapat kemaslahatan didalamnya akan tetapi ziarah mereka juga akan menimbulkan kemudharatan yang telah diketahui secara khsuus maupun umum, berupa fitnah bagi orang yang masih hidup atau menyakiti si mayit (karena tangisannya yang berteriak-teriak).

Kemudharatan ini tidaklah bisa dicegah kecuali dengan melarang mereka dari menziarahinya. Dalam hal ini kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya yang sedikit bagi mereka. Syari’ah tegak diatas pengharaman suatu perbuatan apabila kemudharatannya lebih kuat daripada kemaslahatannya. Kuatnya kemudharatan dalam permasalahan ini tidaklah tersembunyi maka melarang kaum wanita dari berziarah kubur adalah diantara perbuatan baik dalam syari’ah.“ (Aunul Ma’bud juz V hal 43)

Sekali lagi, proteksi lah yang menjadi alasan penting mengapa pelarangan tersebut dibutuhkan. Karena situasi iman dan pemahaman Aqidah yang shohih butuh tumbuh dan berkembang tanpa tercampuri hal-hal yang merusak. Namun setalah situasi memungkinkan, sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas, maka dibolehkan ziarah tersebut. Proteksi ini diberlakukan dalam rangka memperkokoh keyakinan, memperjelas hal-hal yang kabur, dan memberikan benteng sampai pemahaman yang kokoh tertanam. Sehingga pada saatnya nanti, jika perijinan telah diberikan maka para sahabat telah benar siap dan memiliki filter untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Wallohua’lam

 

Apakah hal ini juga berlaku dalam ranah ruqyah syar’iyyah????

Mari kita lihat riwayat riwayat berikut :

Riwayat Pertama : statement dari sahabat bahwa ruqyah pernah dilarang

(AHMAD – 14699) : Telah bercerita kepada kami Hasan telah bercerita kepada kami Ibnu Lahi’ah telah bercerita kepada kami Abu Az-Zubair dari Jabir ‘Amr bin Hazm dipanggil seorang wanita dari Madinah yang terkena sengatan ular agar dia meruqyahnya. Namun dia menolaknya.Hal itu disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu beliau memanggilnya.’Amr berkata; Wahai Rasulullah, dahulu anda pernah melarang ruqyah. Beliau bersabda: “Bacakan hal itu kepadaku”, lalu dia membacanya, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak mengapa, sebab ruqyah pada hakikatnya adalah penawar (pelindung).”

Riwayat Kedua : Nabi Memberikan batasan penggunaan ruqyah

Rasululah saw, memberikan keringanan dalam hal ruqyah dari ‘ain,racun (bisa), dan cacar.

(HR. Muslim : 2196)

Riwayat Ketiga : Nabi membolehkan ruqyah untuk semua penyakit

(AHMAD – 24395) : Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dan Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Asy Syaiban dari Abdurrahman bin Al Aswad dari ayahnya dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk meruqyah pada setiap penyakit

Riwayat Keempat : Nabi Menyuruh belajar ruqyah

(AHMAD – 25244) : Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad Al Mungkadir dari Abu Bakr bin Sulaiman dari Hafshah bahwasanya Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya dan sementara disampingnya ada seorang wanita yang bernama Syaffa’ yang bisa meruqyah dari kesemutan. Lalu Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ajarilah Hafshah tentangnya.”

 

(AHMAD – 25847) : Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz dari Shalih bin Kaisan dari Abu Bakr bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Abu Hatsmah dari Syifa’ binti Abdullah dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami saat aku berada di samping Hafshah, beliau bersabda kepadaku: “Tidakkah kamu mengajarkan ruqyah untuk luka ini sebagaimana kamu mengajarinya menulis.”

Riwayat Kelima : Nabi memberikan syarat dan batasan tegas dalam ruqyah, yakni tidak mengandung kesyirikan

(AHMAD – 20936) : Telah menceritakan kepada kami Rib’iy bin Ibrahim -saudara Isma’il bin ‘Ulaiyyah, ia memujinya dengan baik, ia berkata; Ia lebih mulia dari Isma’il- telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Rahman bin Ishak dari Muhammad bin Zaid bin Al Muhajir dari ‘Umair budak Abu Al Lahm, ia berkata; saya bersama para pemimpin-pemimpin saya turut serta dalam perang Khaibar, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkanku, lalu aku mengaitkan pedang dan ternyata aku menyeretnya. Kemudian ada yang berkata padanya; ‘Ia adalah budak.Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkanku membawa beberapa perkakas. Kemudian saya memperlihatkan ruqyah kepada beliau yang pernah aku pakai untuk meruqyah orang-orang gila dimasa jahiliyah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Buanglah ini dan itu, dan selebihnya pakailah untuk meruqyah.” Berkata Muhammad bin Zaid; saya bertemu dengannya saat ia meruqyah orang-orang gila dengan bacaan-bacaan itu.

 

Jika kita cermati dalam 5 kondisi diatas maka akan sangat jelas terlihat proses perkembangan ilmu ruqyah dari waktu ke waktu. Pernah dilarang, lalu ada pembatasan kebolehannya, lalu disuruh belajar, lalu ruqyah untuk semua penyakt, lalu pemberian syarat utama.

Maka dalam perkembangannya dapat kita lihat, pernah terjadi pelarangan,berdasarkan kalimat sahabat diatas, hal ini dilakukan karena ruang ruqyah adalah pengobatan spiritual dan masalah spiritual sanga berkaitan erat dengan pertempuran  2 ideologi yakni kesyirikan dan tauhid.

Pola pelarangan dan proteksi spt ini tidak kita temukan dalam terapi bekam. Hal ini bisa kita pahami karena bekam bukanlah terapi spiritual,tetapi bekam adalah terapi medis atau fisik maka jika ada pembatasan larangan dalam bekam atau anjuran dalam bekam adalah untuk memaksimalkan fungsi kerja bekamnya bukan karena kekhawatiran jatuh pada kesyirikan.

Misalnya makruhnya berbekam hari rabu atau saran berbekam tgl 17,19,21 qomariyah adalah untuk memaksimalkan kerja bekam pada tubuh.

Wallohu a’lam.

Apa relevansi tema ini dalam teknik ruqyah?

saya menyadari bahwa sy tdk cukup punya kompetensi untuk meletakkan sesuatu atau menghukumi halal dan haramnya sesuatu. sedangkn pada saat yg sama dinamika perkembangan ruqyah sedemikan pesat.

Munculnya kecenderungan untuk mngadopsi pemikiran,teknik atau metode untuk melengkapi ruqyah,sepertinya sulit dihindari.
Dalam kondisi seperti ini maka perlu frame agar kita dapat melakukan filter lebih dini,sebelum kita mendapatkn jawaban lebih pasti terhadap proses adopsi ilmu tersebut ke dalam ranah ruqyah.

Pemahaman thd rentetan hadits diatas mungkin bermanfaat untuk sedikit memberi arah bagi kita dalam mengadopsi hal hal baru.
BAGI PERUQYAH
a. Bagi peruqyah, mengembangkan atau mengadopsi teknik pengobatan spiritual lain, diluar yg sdh ada, mgkn memang sulit dihindari. Hanya saja yang perlu selalu diingat adalah pengobatan spiritual akan bersinggungan dengan ideologi.

Akar ilmu pengobatan spiritual didunia selalu bersinggungan dg ideologi tertentu
b. Jika proses adopsi perlu dilakukan karena besarnya manfaat yang kita dapatkan, maka langkah pertama yg perlu dilakukan adalah mempelajari asal usul ilmu pengobatan spiritual tersebut. Agar tergambar dengan jelas asal usulnya dan bagaimana dia bekerja
c. Setelah data terkumpul,dan kita melihat kemungkinan utk diadopsi maka langkah selanjutnya adalh filterisasi secara ketat agar kita tidak jatuh pada kesalahan. Letakan dan timbang secara adil mudhorot dan manfaatnya, lalu bersihkan segala hal yang menyimpang darinya.
d. Jika kita sulit untuk melakukan filterisaisi dan tidak memiliki kapasitas untuk memfilternya, atau tidak bisa adil dalam menimbangnya maka mintalah pendapat dari org lain yang bisa lebih adil dalam menimbang.
e. Akan tetapi jika kita tidak dapat menemukan orng yang dapat membantu kita, dan kita sendiri tidak cukup punya kompetensi utk meletakkannya pada sisi haram atau halal, maka pilihan paling maslahat adalah menjauhinya, dan tidak mengadopsinya ke ranah ruqyah.
f. Sikap menjauhi ini adalah sikap kehati-hatian.Tanpa meyakini haram mutlak atau meyakini halal mutlak.
g. Sikap kehati-hatian ini,sampai kita menemukan jawaban yang lebih baik dan orang yang lebih adil dalam menimbang. kita berharap bahwa sikap hati-hati ini lebih maslahat, dibandingkan memaksakan diri dengan sesuatu yang kita tidak yakin boleh dan tidaknya.
h. Seiring dg sikap hati-hati tsb maka sikap menghormati pendapat yang berbeda wajib dikedepankan. karena pada dasarnya mereka yang menggunakannya atau meninggalkannya memiliki hujjah masing-masing.

 

BAGI PASIEN
a.Sikap hati hati dan selalu bertanya perlu dilakukan. memilah dan memilih proses terapi jg mjd kewajiban pasein.

oleh karenanya,lakukan filter secara mandiri pada saat bertemu dg terapis.tanyakn dg detail cara terapinya,dan alasan mengapa menggunakan cara tersebut.
b.jika Anda dapati terapi mengadopsi teknik pengobatan lain dalam proses ruqyah maka jangan ragu untuk bertanya.krn adalah hak pasien untuk mendapatkan kejelasan sedetail mungkin.

selanjutnya keputusan ditangan Anda. Pilihlah dg keyakinan dan pemahaman yg adil.pilihlah yang paling menenangkan hati.bukan sekedar mngejar hasil.
seiring waktu berjalan,mohon petunjuk pada Alloh tdk boleh ditinggalkan.

Semoga Alloh senantiasa membimbing kita pada jalan dan pilihan terbaik yg bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat kita.
Aamiin

Wallohua’lam

 

M.Nadhif Khalyani

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: