Tag Archives: pengobatan nabi

Fenomena Ponari Si Dukun Tiban

FENOMENA PONARI SI DUKUN TIBAN

Beberapa pekan ini ada yang kita disuguhi berita yang cukup menghebohkan dan sekaligus memprihatinkan. Fenomena Ponari, di dukun Tiban dari Jombang. Untuk kesekian kalinya Jombang menjadi sangat terkenal.:). Memang fenomenal, bagaimana tidak, pasien yang datang untuk medapatkan kesembuhan dari bantuan Ponari mencapai puluhan ribu per hari. Desa yang semula sepi dan tidak dikenal, tiba-tiba menjadi penuh sesak. Jika pasien berobat pada dukun saja, mungkin sudah sering kita dengar. Tapi yang terjadi pada pasien Ponari tidak hanya demikian. Kesan irrasional sangat kental, para pasien tidak canggung untuk mengambil segala hal yang ada sangkut pautnya dengan Ponari, dengan keyakinan bahwa semua benda tersebut memiliki kasiat untuk penyembuhan. Air selokan, tanah disekitar rumah, serta air hujan yang terkumpul di atas atap tenda pun diambil untuk pengobatan. Yang lebih memprihatinkan, dalam waktu singkat bermuncula dukun-dukun tiban baru dengan modus yang sama, dan lokasinya pun tidak jauh dari lokasi Ponari. Continue reading →

Iklan

CARA MERUQYAH

PERSIAPAN RUQYAH

  1. Persiapan diri :

         Memiliki referensi yang cukup tentang Penobatan, Ruqyah, Jin dan Tazkiyah Nafs (pensucian Jiwa)

          Banyak istighfar & taqorrub kepada Allah swt

         Do’a2  & Dzikir2 perlindungan perlu dilakukan juga oleh keluarga

          Upayakan selalu dalam keadaan berwudhu’

        Sebaiknya taqorrub dengan amal-amal sholih dan isti’anah kepada ALLAH swt sebelum memulai peruqyahan

          Tawakkal, menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT

 

  1. Persiapan yang diruqyah :

          Musnahkan / tutup pintu2 masuk Syaithan/jin : benda2 kemusyrikan : Jimat, ‘penangkal’, penglaris, pusaka2. Ilmu tenaga dalam (berikut atribut/panji2nya), jiwa yg penakut, pemarah, sering sedih, terlalu senang canda (sering tertawa-tawa), gambar2 bernyawa & patung, lambang2 kekufuran, dzikir2/wirid2/sholawat2 yang tidak diajarkan Nabi. Continue reading →

Apa sih Ruqyah itu …..?

MEMAHAMI RUQYAH

 Manusia dalam mempertahankan hidupnya (survive) atau dalam persaingannya membutuhkan jaminan dan dukungan keamanan, kekuatan, perlindungan, jaminan rejeki (baca: ekonomi), kesehatan, kepandaian, kewibawaan/daya pengaruh dsb. Segala cara dan upaya dilakukan untuk memperoleh hal itu. Terlebih jika sedang membutuhkan solusi ‘mendesak’, maka apapun dapat dilakukannya demi mempertahankan dan memenangkan persaingannya tersebut.

Diantara cara yang ditempuh oleh manusia untuk memperoleh jaminan dan dukungan itu adalah dengan mengandalkan ‘jalan gaib’ baik dalam bentuk sesuatu yang dibaca (kan), dituliskan (kan), berupa benda yang dibawa/dipakai/ disimpan, laku ritual tertentu, yang dimakan/diminum, olah nafas/ gerak tertentu dsb. Semua itu terkait erat dengan bentuk-bentuk pengembangan berikutnya dari aktivitas yang berhubungan dengan RUQYAH.

Ruqyah atau mantera (jawa : suwuk, jopa-japu) sudah ada sejak sebelum RosuluLLah saw diutus. Keberadaannya dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Hanya saja Islam melarang setiap hal yang mendatangkan kerugian dan kesesatan, sekalipun hal itu ‘dibutuhkan’. Islam menggantikan setiap kebutuhan yang dilarang itu dengan sesuatu yang halal yang lebih baik dan menjamin kebahagiaan hidup selamanya. Mantera-mantera (Ruqyah) untuk perlindungan atau penyembuhan – baik yang jelas ke-syirik-annya maupun yang samar-samar – adalah suatu yang dilarang, sekalipun ‘seolah-olah’ mendatangkan hasil.  Dalam sebuah riwayat shohih diberitakan,

عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قـال : كُنَّا نَرْقِي فِى الْجَـاهِلِيَّةِ، فَقُلْنـَا يـَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى بِذلِكَ ؟  فَقَالَ : أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَـأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكـاً (رواه مسلم)

Dari sahabat ‘Auf bin Malik ra dia berkata : Kami dahulu meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami bertanya : “Ya RosuluLLah, bagaimana menurut pendapatmu ?” Beliau menjawab : “Tunjukkan padaku Ruqyah (mantera) kalian itu. Tidak mengapa mantera itu selama tidak mengandung kesyirikan” (HR. Muslim).

Meruqyah dengan cara yang sesuai dengan kaidah syari’at (الرُّقْيَةُ الشَّرْعِِيَّة) tidak hanya dikhususkan terhadap permasalahan yang berhubungan dengan Jin atau Sihir saja. Terbukti dari beberapa do’a Ruqyah yang diajarkan Nabi saw banyak yang berhubungan dengan penyakit-penyakit pada umumnya termasuk luka-luka, ‘keracunan’ dsb. ALLAH swt menurunkan Al-Quran yang diantara fungsinya adalah sebagai SYIFAA’ (obat/ penyembuh) terhadap penyakit serta gangguan secara umum.

Praktek ruqyah dapat dilakukan baik secara individul atau secara massal yang disetarakan dengan pengobatan massal. Beberapa ulama dalam kitab-kitab hadits mereka (seperti Imam Al-Bukhori, At Tirmidzi dan Abu Dawud) memberi penjelasan tentang Ruqyah dalam Bab At Thibb (Pengobatan). Dalam praktek Ruqyah Syar’iyyah (individual atau secara massal) inilah nilai-nilai dakwah dengan menanamkan kebersihan Aqidah dan ke-shohihan ibadah secara hikmah dapat kita sampaikan dan mau’izhoh hasanah secara efektif bisa kita ungkapkan(الرُّقْيَةُ الدَّعْوِيَّة) . Continue reading →